Senin, 02 Desember 2013
Tidak Ada Lagi Tinggal Kelas di SD
Jakarta--Mulai tahun depan, tidak ada lagi peserta didik sekolah dasar (SD) yang tinggal kelas. Penilaian di rapor SD mencakup sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam bentuk deskriptif tidak lagi angka.
"Penilaian di SD tidak ada
angka, tetapi narasi. Mereka tidak tinggal kelas. Bagi yang belum memahami
pelajaran, meskipun naik kelas akan diberikan remedial," kata Kepala Pusat
Kurikulum dan Perbukuan Ramon Mahondas saat memberikan keterangan pers pada Rapat
Koordinasi Persiapan Implementasi Kurikulum 2013 di Tahun 2014 dan Ujian
Nasional 2014.
Ramon mengatakan, saat ini telah
dilakukan pelatihan untuk guru pendamping yang turun di lapangan. Mereka, kata
Ramon, telah dijelaskan baku bentuk rapor, cara menilai dan memberikan angka.
Dia menyebutkan, pelatihan tahun depan mencakup 150 ribu sekolah, lebih
besar dibandingkan tahun ini yang hanya enam ribu sekolah. "Terkait
berbagai permasalahan muncul masukan itu sudah diakomodasi," katanya di
Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (1/12/2013).
Kepala Unit Implementasi Kurikulum
Kemdikbud Tjipto Sumadi menyampaikan, penilaian menggunakan bahasa positif
karena usia anak masih dalam usia emas atau golden age. Hal ini, kata dia,
dilakukan untuk memotivasi anak.
Sekretaris Badan Penelitian dan
Pengembangan Kemdikbud, Dadang Sudiyarto, mengatakan, pada tahun depan tidak
ada lagi ujian berstandar nasional untuk SD, tetapi diselenggarakan ujian
sekolah/madrasah. Ujian ini, kata dia, mencakup SD, SDLB, Paket A, dan
Ula.
Dia mengatakan, mata pelajaran yang
diujikan yaitu matematika, bahasa Indonesia, dan IPA untuk SD/MI dan bahasa
Indonesia, matematika, IPS, dan PKN untuk SDLB. "Sebanyak 25 persen
kisi-kisi soal dari pemerintah pusat dan 75 persen dari satuan pendidikan
berkoordinasi dengan kabupaten/kota," katanya.
Sekretaris Jenderal Kemdikbud Ainun
Na'im mengatakan, Ujian Nasional pada tahun depan untuk SMA/MA/SMALB/SMK
termasuk Paket C dan Paket C Kejuruan dilaksanakan pada 14-16 April dan
SMP/MTs/SMP/SMPLB/Paket B/Usto pada 5-8 Mei. "Nilai kelulusannya tetap
5,5," katanya.
"Ujian sekolah/madrasah
SD/SDLB/MI/Paket A/Ula pada 19-21 Mei," katanya.(ASW/SEN)
Sumber : http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/1908
Kamis, 14 November 2013
TIK Sebagai Sarana Penunjang Pendidikan
Kepala Pusat Teknologi Informasi
dan Komunikasi (Pustekkom), Ari Santoso pada saat jumpa pers di Kemdikbud hari
ini, Rabu (13/11) dalam rangka Anugerah KiHajar 2013 di Kemdikbud, mengatakan
agar dapat melaksanakan semua kebijakan tersebut salah satu upaya yang
ditempuh adalah dengan pemanfaatan teknologi informasi komunikasi (TIK) secara
optimal. Seperti kita sadari bahwa kemampuan TIK sangat luar biasa dan kian
hari berkembang pesat, dapat merubah pola pikir dan perilaku manusia di muka
bumi ini katanya.
Ari Santoso menyatakan kurun
waktu lebih kurang 10 tahun, Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan ( Pustekkom)
sudah merancang pemanfaatan TIK. Pustekkom sudah mencoba membuat
terobosan-terobosan baru membangun TIK dan hasilnya sangat memuaskan semua
pihak terutama bagi guru dan peserta didik walaupun masih ada
kendala terkait masalah anggaran yang belum mencukupi, jaringan internet belum
sempurna karena fasilitas listrik belum ada khususnya di daerah-daerah
tertentu, namun dari tahun ke tahun Pustekkom selalu berusaha mengembangkan TIK
ini agar bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia dengan mengajak semua pihak
termasuk PLN dan TELKOM imbuhnya.
Hingga saat ini Pustekkom sudah
menerapkan TIK sebagai bagian dari Proses Belajar Mengajar (PBM) termasuk di
ruang kelas. Seperti Portal Rumah Belajar sebagai media belajar internet
(online) untuk para guru dan siswa agar dapat mengakses bahan belajar serta
berkomunikasi dan interaksi antar komunitas pendidikan. Jardiknas, yang
berfungsi untuk melayani kantor Dinas Pendidikan Provinsi/Kab/Kota/PT/UPT dalam
hal transaksi data online, e-administrasi juga TV EDUKASI untuk siswa
memberikan layanan siaran pendidikan berkualitas untuk menunjang tujuan
pendidikan nasional.
Program KI HAJAR saat ini telah
memuat Kuis Unggulan Tahunan dari TV EDUKASI yang bertujuan menjaring siswa
yang mempunyai pengetahuan di bidang TIK terutama dari daerah terpencil,
sekaligus juga mensosialisasikan program-programnya TVE kepada
masyarakat dan bagi pemenang akan diberikan hadiah sahutnya.
Hadir pada saat konperensi pers
adalah perwakilan pemerintah daerah yang akan menerima Anugerah KiHajar,
seperti Walikota, Bupati, Wakil Bupati dan beberapa Kepala Dinas Pendidikan
mewakili pemerintah daerah serta pejabat di lingkungan Kemdikbud. (MS)
Sumber : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/1854
Senin, 09 September 2013
Mata Pelajaran Seni Budaya Akan Miliki Laboratorium
Jakarta --- Untuk mendukung
proses belajar mengajar mata pelajaran seni budaya, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan akan membangun laboratorium seni budaya di sekolah-sekolah jenjang
pendidikan menengah. Pembangunan laboratorium tersebut juga untuk memfasilitasi
siswa supaya memiliki pengetahuan yang cukup mengenai seni budaya melalui
praktik.
“Selama ini kita kan mengenal
laboratoriumnya pun laboratorium fisika, atau kimia. Seni budaya belum ada.
Kita tentu saja ingin anak-anak sekolah juga memiliki pengetahuan yang cukup
tentang seni budaya. Ini kan perlu tempat. Tempat itu ga ada,” ujar Dirjen
Kebudayaan Kacung Maridjan, usai launching produksi Film Soekarno, di Hotel
Atlet Century, Jakarta, (5/9).
Kacung menjelaskan, saat ini
Ditjen Kebudayaan Kemdikbud masih melakukan kajian tentang rencana pembangunan
laboratorium seni budaya. Rencananya, untuk awal Kemdikbud akan membangun 20
laboratorium di sekolah-sekolah percontohan. “Yang pasti di kota-kota besar
dulu. Tapi tidak menutup kemungkinan di daerah juga,” ujarnya. Diharapkan,
tahun depan pembangunan laboratorium seni busaya bisa terealisasi. Setelah
pembangunan laboratorium seni budaya rampung dikerjakan Ditjen Kebudayaan,
untuk selanjutnya pengelolaan laboratorium akan menjadi wewenang Ditjen
Pendidikan Menengah.
Selain membangun laboratorium,
untuk mendukung mata pelajaran seni budaya, Ditjen Kebudayaan juga melakukan
pelatihan kepada guru-guru yang mengajar seni budaya. “Itu sudah mulai
dilakukan, termasuk pelajaran sejarah,” kata Kacung. Dua modul pun akan
diterbitkan untuk menjadi pedoman guru dalam mengajar.
Modul pertama merupakan modul
tambahan bertema budaya nasional untuk mendukung buku pelajaran yang sudah ada.
“Sekarang kan pelajaran seni budaya sudah ada bukunya. Cuma kalau untuk
operasional, belajar menari kan nggak dari buku, belajar main film
juga nggak dari buku. Perlu praktik dan perlu audio visual. Jadi akan
kita lengkapi dengan video,” jelas Kacung. Sedangkan modul kedua adalah modul
pengayaan, yang bertema budaya daerah. Sehingga masing-masing daerah akan
memiliki modul tentang kebudayaan daerahnya masing-masing. “Sehingga jangan
sampai orang di Palangkaraya sana ngerti budaya nasional tapi nggak
ngerti budaya Palangkaraya sendiri dan sekitarnya,” pungkasnya. (DM)
Sumber : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/1688
Selasa, 27 Agustus 2013
140 Ribu Mahasiswa Tidak Mampu Ditanggung Pemerintah
Jakarta—Pemerintah melalui
berbagai mekanisme dan program terus mengupayakan aksesibilitas kepada lulusan
sekolah menengah atas dan sederajat untuk menempuh jenjang pendidikan tinggi.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan kesempatan bagi mereka
yang berasal dari keluarga tidak mampu.
Sekretaris Jenderal Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Sesjen Kemdikbud) Ainun Na’im menyampaikan, sampai
saat ini pemerintah menanggung 140 ribu mahasiswa berasal dari masyarakat yang
tidak mempunyai akses ke pendidikan tinggi. “Yang ditanggung meliputi biaya
hidup maupun biaya pendidikan,” katanya usai memberikan penghargaan kepada para
mahasiswa berprestasi akademik penerima beasiswa unggulan dari pemerintah
bekerjasama dengan pihak perbankan swasta,” di Kemdikbud, Jakarta, Kamis
(23/08/2013).
Ainun mengatakan, kerja sama
pemberian beasiswa dengan pihak swasta ini telah berjalan selama lima tahun.
Kedua pihak, kata dia, sepakat untuk melanjutkan kerja sama ini. “Ruang
lingkupnya juga bisa diperluas,” katanya usai menyaksikan penandatanganan kerja
sama kedua belah pihak.
Pemerintah, lanjut Ainun, juga
tetap memberikan kesempatan akses pendidikan untuk masyarakat tidak mampu mulai
jenjang sekolah dasar (SD) sampai dengan sekolah menengah atas (SMA). Selain
itu, kata dia, ada program yang sangat agresif untuk menjamin aksesibilitas
ini. “Pemerintah mengembangkan sekolah vokasi yaitu sekolah menengah kejuruan dan
akademi komunitas,” ujarnya.
Pengembangan sekolah vokasi ini,
kata Ainun disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah. Untuk
mewujudkannya, pihaknya mengajak peran serta bersama antara pemerintah dengan
masyarakat dan industri. Menurut dia, hal ini dilakukan kerena hasil dari
pendidikan ini yang menggunakan adalah mereka juga.
Pada kesempatan yang sama, Ainun
memberikan ucapan selamat kepada para penerima beasiswa unggulan. Dia juga
menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak swasta yang turut memajukan
pendidikan melalui tanggung jawab sosial perusahaan.(ASW).
Sumber : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/1654
Jumat, 23 Agustus 2013
Kemdikbud Lanjutkan Proses Pendirian Empat ISBI
Pelaksana tugas Direktur
Kelembagaan dan Kerja Sama Kemdikbud, Achmad Jazidie, mengatakan, tujuan
didirikannya ISBI adalah supaya ISBI bisa menjadi salah satu sarana
pengembangan warisan budaya bangsa, dan menghasilkan sarjana seni dan budaya
yang peka dan tanggap terhadap masalah sosial, budaya, etika, moral, dan
akademis.
“Begitu banyak kebudayaan yang
kita miliki. Tapi sayang sekali, sedikit yang terkonstruksi dengan baik,”
ujarnya saat menjadi narasumber dalam pembekalan petugas call center Kemdikbud,
di Ruang Sidang Pusat Informasi dan Humas Kemdikbud, Jakarta, (22/8). Ia
mengatakan, institusi ilmiah seperti ISBI diharapkan bisa merekonstruksi
kebudayaan dan mengembangkan kebudayaan dengan kajian ilmiah dan analisis
ilmiah.
Jazide menjelaskan, pada tahun
lalu, empat Institut Seni Indonesia (ISI) yang juga akan dikonversi menjadi
ISBI, memulai studi kelayakan untuk persiapan pendirian ISBI. ISI Padang
Panjang melakukan studi kelayakan untuk ISBI Aceh, ISI Yogyakarta untuk ISBI
Kalimantan Timur, ISI Surakarta untuk ISBI Sulawesi dan ISI Bali untuk ISBI
Papua.
Dalam proses pendirian sebuah
perguruan tinggi di suatu wilayah, jelas Jazidie, Kemdikbud selalu meminta
partisipasi dari pemerintah daerah terkait. “Ada lahan atau tanah yang
diserahkan ke Kemdikbud sebagai aset Kemdikbud. Ini tidak mudah,” ujarnya. Ia
menuturkan, ada pemerintah daerah atau DPRD yang sulit bekerja sama atau
memberikan izin pembebasan lahan. Namun usaha pendirian ISBI terus diupayakan
dengan melakukan pendekatan kepada pihak-pihak terkait. Salah satunya melalui
pendekatan kebudayaan yang terbukti efektif dan direspon positif oleh
masyarakat Papua.
Tahun ini, ISBI Papua akan
melakukan serah terima lahan seluas 5 Ha dari 20 Ha yang berlokasi di Jayapura.
Selain itu ISBI Papua juga telah memasuki tahap proses persetujuan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB), serta
memulai penerimaan mahasiswa baru melalui skema program studi di luar domisili.
Untuk ISBI Kalimantan Timur,
saat ini tengah menjalani proses sertifikasi lahan seluas 100 Ha di Tenggarong,
dan penerimaan mahasiswa baru untuk tahun akademik 2013/2014. Sedangkan ISBI
Sulawesi saat ini dalam proses sertifikasi lahan seluas 30 Ha di Takalar serta
rencana serah terima lahan. Sementara ISBI Aceh juga dalam tahap rencana serah
terima lahan juga pembebasan lahan seluas 10 Ha di Aceh Besar. (DM)
Sumber : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/1652
Minggu, 18 Agustus 2013
Kualitas Pendidikan Terus Ditingkatkan
Jakarta -- Peningkatan kualitas
pendidikan akan terus dilakukan antara lain melalui peningkatan kualitas guru
termasuk di dalamnya sertifikasi guru dan implementasi Kurikulum 2013. Beberapa
program afirmasi akan tetap dilanjutkan dan ditingkatkan seperti pengiriman
guru pada daerah terpencil, terluar, dan tertinggal atau 3T.
Hal tersebut disampaikan
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada saat menyampaikan Keterangan
Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RUU
APBN) Tahun Anggaran 2014 dan Nota Keuangannya di Gedung DPR/MPR/DPD RI,
Jakarta Jumat (16/8/2013).
SBY menungkapkan satu masalah
penting, yang perlu mendapatkan perhatian khusus bersama. Masalah itu, kata
Presiden, adalah distribusi guru antarsatuan pendidikan dan antarwilayah, yang
belum merata. “Daerah-daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan masih ada
yang belum terpenuhi kebutuhannya sesuai dengan standar pelayanan minimal,”
katanya.
Pemerintah juga akan mengirimkan
pelajar asal Provinsi Papua untuk melanjutkan studinya di beberapa SMA, SMK,
dan perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik di luar Papua. “Infrastruktur sekolah
juga terus kita bangun,” katanya.
Anggaran, kata Presiden, akan
disediakan untuk melanjutkan penuntasan rehabilitasi ruang kelas rusak, serta
pembangunan sekolah baru, akademi komunitas, dan sarana pendukungnya. Kemudian
untuk semakin memeratakan akses pendidikan dalam tahun 2014 ditingkatkan lagi
penyediaan bantuan siswa miskin (BSM) dan beasiswa Bidik Misi.
Presiden menyebutkan, sebanyak
tujuh kementerian dan lembaga, yang mendapatkan alokasi anggaran di atas Rp 30
triliun. Kementerian dan lembaga tersebut adalah Kementerian Pertahanan dengan
alokasi anggaran sebanyak Rp 83,4 triliun, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Rp 82,7 triliun, Kementerian Pekerjaan Umum Rp 74,9 triliun,
Kementerian Agama Rp 49,6 triliun, Kementerian Kesehatan Rp 44,9 triliun,
Kepolisian Republik Indonesia Rp 41,5 triliun, dan Kementerian Perhubungan Rp
39,2 triliun.
Pada sambutannya, Presiden
menyampaikan alokasi anggaran pada Kementerian Kesehatan diprioritaskan untuk
meningkatkan akses dan kualitas kesehatan. Pemerintah, kata SBY, merencanakan
untuk membangun Puskesmas perawatan di daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil
terdepan yang berpenduduk. Selain itu, juga diberikan bantuan operasional
kesehatan sebanyak 9.536 Puskesmas. “Pemerintah terus berupaya untuk menurunkan
angka kematian ibu melahirkan. Salah satunya dengan meningkatkan pelayanan ibu
bersalin, yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih,” katanya.
Pemerintah juga akan
meningkatkan ketersediaan obat dan vaksin hingga mencapai 100 persen. Dengan
berbagai program dan kegiatan itu, diupayakan derajat kesehatan masyarakat
makin meningkat di seluruh pelosok tanah air. (ASW)
Sumber : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/1632
Langganan:
Komentar (Atom)

Tahun 2014, Anggaran Pendidikan Naik 7,5 Persen
Riqqah Dhiya Ramadhanty
Kartu Perlindungan Sosial (KPS)
Sehari Bersama SBY
