Senin, 09 September 2013
Mata Pelajaran Seni Budaya Akan Miliki Laboratorium
Jakarta --- Untuk mendukung
proses belajar mengajar mata pelajaran seni budaya, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan akan membangun laboratorium seni budaya di sekolah-sekolah jenjang
pendidikan menengah. Pembangunan laboratorium tersebut juga untuk memfasilitasi
siswa supaya memiliki pengetahuan yang cukup mengenai seni budaya melalui
praktik.
“Selama ini kita kan mengenal
laboratoriumnya pun laboratorium fisika, atau kimia. Seni budaya belum ada.
Kita tentu saja ingin anak-anak sekolah juga memiliki pengetahuan yang cukup
tentang seni budaya. Ini kan perlu tempat. Tempat itu ga ada,” ujar Dirjen
Kebudayaan Kacung Maridjan, usai launching produksi Film Soekarno, di Hotel
Atlet Century, Jakarta, (5/9).
Kacung menjelaskan, saat ini
Ditjen Kebudayaan Kemdikbud masih melakukan kajian tentang rencana pembangunan
laboratorium seni budaya. Rencananya, untuk awal Kemdikbud akan membangun 20
laboratorium di sekolah-sekolah percontohan. “Yang pasti di kota-kota besar
dulu. Tapi tidak menutup kemungkinan di daerah juga,” ujarnya. Diharapkan,
tahun depan pembangunan laboratorium seni busaya bisa terealisasi. Setelah
pembangunan laboratorium seni budaya rampung dikerjakan Ditjen Kebudayaan,
untuk selanjutnya pengelolaan laboratorium akan menjadi wewenang Ditjen
Pendidikan Menengah.
Selain membangun laboratorium,
untuk mendukung mata pelajaran seni budaya, Ditjen Kebudayaan juga melakukan
pelatihan kepada guru-guru yang mengajar seni budaya. “Itu sudah mulai
dilakukan, termasuk pelajaran sejarah,” kata Kacung. Dua modul pun akan
diterbitkan untuk menjadi pedoman guru dalam mengajar.
Modul pertama merupakan modul
tambahan bertema budaya nasional untuk mendukung buku pelajaran yang sudah ada.
“Sekarang kan pelajaran seni budaya sudah ada bukunya. Cuma kalau untuk
operasional, belajar menari kan nggak dari buku, belajar main film
juga nggak dari buku. Perlu praktik dan perlu audio visual. Jadi akan
kita lengkapi dengan video,” jelas Kacung. Sedangkan modul kedua adalah modul
pengayaan, yang bertema budaya daerah. Sehingga masing-masing daerah akan
memiliki modul tentang kebudayaan daerahnya masing-masing. “Sehingga jangan
sampai orang di Palangkaraya sana ngerti budaya nasional tapi nggak
ngerti budaya Palangkaraya sendiri dan sekitarnya,” pungkasnya. (DM)
Sumber : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/1688
Selasa, 27 Agustus 2013
140 Ribu Mahasiswa Tidak Mampu Ditanggung Pemerintah
Jakarta—Pemerintah melalui
berbagai mekanisme dan program terus mengupayakan aksesibilitas kepada lulusan
sekolah menengah atas dan sederajat untuk menempuh jenjang pendidikan tinggi.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan kesempatan bagi mereka
yang berasal dari keluarga tidak mampu.
Sekretaris Jenderal Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Sesjen Kemdikbud) Ainun Na’im menyampaikan, sampai
saat ini pemerintah menanggung 140 ribu mahasiswa berasal dari masyarakat yang
tidak mempunyai akses ke pendidikan tinggi. “Yang ditanggung meliputi biaya
hidup maupun biaya pendidikan,” katanya usai memberikan penghargaan kepada para
mahasiswa berprestasi akademik penerima beasiswa unggulan dari pemerintah
bekerjasama dengan pihak perbankan swasta,” di Kemdikbud, Jakarta, Kamis
(23/08/2013).
Ainun mengatakan, kerja sama
pemberian beasiswa dengan pihak swasta ini telah berjalan selama lima tahun.
Kedua pihak, kata dia, sepakat untuk melanjutkan kerja sama ini. “Ruang
lingkupnya juga bisa diperluas,” katanya usai menyaksikan penandatanganan kerja
sama kedua belah pihak.
Pemerintah, lanjut Ainun, juga
tetap memberikan kesempatan akses pendidikan untuk masyarakat tidak mampu mulai
jenjang sekolah dasar (SD) sampai dengan sekolah menengah atas (SMA). Selain
itu, kata dia, ada program yang sangat agresif untuk menjamin aksesibilitas
ini. “Pemerintah mengembangkan sekolah vokasi yaitu sekolah menengah kejuruan dan
akademi komunitas,” ujarnya.
Pengembangan sekolah vokasi ini,
kata Ainun disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah. Untuk
mewujudkannya, pihaknya mengajak peran serta bersama antara pemerintah dengan
masyarakat dan industri. Menurut dia, hal ini dilakukan kerena hasil dari
pendidikan ini yang menggunakan adalah mereka juga.
Pada kesempatan yang sama, Ainun
memberikan ucapan selamat kepada para penerima beasiswa unggulan. Dia juga
menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak swasta yang turut memajukan
pendidikan melalui tanggung jawab sosial perusahaan.(ASW).
Sumber : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/1654
Jumat, 23 Agustus 2013
Kemdikbud Lanjutkan Proses Pendirian Empat ISBI
Pelaksana tugas Direktur
Kelembagaan dan Kerja Sama Kemdikbud, Achmad Jazidie, mengatakan, tujuan
didirikannya ISBI adalah supaya ISBI bisa menjadi salah satu sarana
pengembangan warisan budaya bangsa, dan menghasilkan sarjana seni dan budaya
yang peka dan tanggap terhadap masalah sosial, budaya, etika, moral, dan
akademis.
“Begitu banyak kebudayaan yang
kita miliki. Tapi sayang sekali, sedikit yang terkonstruksi dengan baik,”
ujarnya saat menjadi narasumber dalam pembekalan petugas call center Kemdikbud,
di Ruang Sidang Pusat Informasi dan Humas Kemdikbud, Jakarta, (22/8). Ia
mengatakan, institusi ilmiah seperti ISBI diharapkan bisa merekonstruksi
kebudayaan dan mengembangkan kebudayaan dengan kajian ilmiah dan analisis
ilmiah.
Jazide menjelaskan, pada tahun
lalu, empat Institut Seni Indonesia (ISI) yang juga akan dikonversi menjadi
ISBI, memulai studi kelayakan untuk persiapan pendirian ISBI. ISI Padang
Panjang melakukan studi kelayakan untuk ISBI Aceh, ISI Yogyakarta untuk ISBI
Kalimantan Timur, ISI Surakarta untuk ISBI Sulawesi dan ISI Bali untuk ISBI
Papua.
Dalam proses pendirian sebuah
perguruan tinggi di suatu wilayah, jelas Jazidie, Kemdikbud selalu meminta
partisipasi dari pemerintah daerah terkait. “Ada lahan atau tanah yang
diserahkan ke Kemdikbud sebagai aset Kemdikbud. Ini tidak mudah,” ujarnya. Ia
menuturkan, ada pemerintah daerah atau DPRD yang sulit bekerja sama atau
memberikan izin pembebasan lahan. Namun usaha pendirian ISBI terus diupayakan
dengan melakukan pendekatan kepada pihak-pihak terkait. Salah satunya melalui
pendekatan kebudayaan yang terbukti efektif dan direspon positif oleh
masyarakat Papua.
Tahun ini, ISBI Papua akan
melakukan serah terima lahan seluas 5 Ha dari 20 Ha yang berlokasi di Jayapura.
Selain itu ISBI Papua juga telah memasuki tahap proses persetujuan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB), serta
memulai penerimaan mahasiswa baru melalui skema program studi di luar domisili.
Untuk ISBI Kalimantan Timur,
saat ini tengah menjalani proses sertifikasi lahan seluas 100 Ha di Tenggarong,
dan penerimaan mahasiswa baru untuk tahun akademik 2013/2014. Sedangkan ISBI
Sulawesi saat ini dalam proses sertifikasi lahan seluas 30 Ha di Takalar serta
rencana serah terima lahan. Sementara ISBI Aceh juga dalam tahap rencana serah
terima lahan juga pembebasan lahan seluas 10 Ha di Aceh Besar. (DM)
Sumber : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/1652
Langganan:
Komentar (Atom)

Tahun 2014, Anggaran Pendidikan Naik 7,5 Persen
Riqqah Dhiya Ramadhanty
Kartu Perlindungan Sosial (KPS)
Sehari Bersama SBY