Kamis, 08 Agustus 2013
Dapodik 2013 Terapkan Metode Sinkronisasi Data
Bandung
(Dikdas): Dalam aplikasi Data Pokok Pendidikan 2013, operator sekolah tak perlu
lagi memasukkan data yang pernah dikirim ke sistem Dapodik. Mereka cukup
memasukkan data perubahan terbaru seperti penambahan siswa dan mutasi guru.
Kondisi demikian terjadi lantaran sistem yang diterapkan dalam Dapodik 2013 menggunakan metode sinkronisasi. Perubahan yang baru dimasukkan ke sistem aplikasi secara otomatis disesuaikan dengan data yang sudah ada.
“Dulu berbasis desktop, sekarang web atau databased server,” ujar Supriyatno, Kasubag Data dan Informasi Bagian Perencanaan dan Penganggaran Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar di Bandung, Senin malam, 22 Juli 2013.
Pada penjaringan data Dapodik tahun lalu, masih banyak ditemui ‘data sampah’, yaitu data yang masuk ke aplikasi Dapodik namun tidak lengkap, tidak wajar, dan tidak benar. Data sampah yang pernah ditemui, misalnya, jumlah rombongan belajar yang tidak sesuai dengan jumlah siswa dan tak ada pencontrengan jenis kelamin dan agama siswa.
Dengan melakukan verifikasi, data-data sampah tersebut dibersihkan dan dibuang. “Jadi data yang kini ada sudah relatif lengkap dan wajar,” ungkap Supriyatno.
Kelengkapan dan kewajaran data dalam Dapodik berimbas positif pada pemanfaatan data, di antaranya untuk penyaluran tunjangan guru, pengalokasian dana Bantuan Operasional Sekolah, Bantuan Siswa Miskin, rehabilitasi sekolah rusak, Ujian Nasional, dan berbagai program peningkatan mutu pendidikan. Supriyatno berharap peserta operator Dapodik menyampaikan kepada para operator sekolah di wilayahnya untuk bekerja secara teliti dan sungguh-sungguh sehingga tak lagi dijumpai data sampah.
Supriyatno menilai, operator sekolah yang telah berpengalaman memasukkan data ke aplikasi Dapodik 2012 kini sudah lebih paham mengenai peran dan fungsi data. Mereka sudah mengerti bahwa data yang sedianya dikirim ke Dapodik telah tervalidasi di sekolah.
Kini tugas yang harus diselesaikan operator sekolah adalah memasukkan data semester I ke aplikasi Dapodik lantaran data siswa baru telah ada. Sementara siswa kelas 2 cukup dipetakan.* (Billy Antoro)
Kondisi demikian terjadi lantaran sistem yang diterapkan dalam Dapodik 2013 menggunakan metode sinkronisasi. Perubahan yang baru dimasukkan ke sistem aplikasi secara otomatis disesuaikan dengan data yang sudah ada.
“Dulu berbasis desktop, sekarang web atau databased server,” ujar Supriyatno, Kasubag Data dan Informasi Bagian Perencanaan dan Penganggaran Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar di Bandung, Senin malam, 22 Juli 2013.
Pada penjaringan data Dapodik tahun lalu, masih banyak ditemui ‘data sampah’, yaitu data yang masuk ke aplikasi Dapodik namun tidak lengkap, tidak wajar, dan tidak benar. Data sampah yang pernah ditemui, misalnya, jumlah rombongan belajar yang tidak sesuai dengan jumlah siswa dan tak ada pencontrengan jenis kelamin dan agama siswa.
Dengan melakukan verifikasi, data-data sampah tersebut dibersihkan dan dibuang. “Jadi data yang kini ada sudah relatif lengkap dan wajar,” ungkap Supriyatno.
Kelengkapan dan kewajaran data dalam Dapodik berimbas positif pada pemanfaatan data, di antaranya untuk penyaluran tunjangan guru, pengalokasian dana Bantuan Operasional Sekolah, Bantuan Siswa Miskin, rehabilitasi sekolah rusak, Ujian Nasional, dan berbagai program peningkatan mutu pendidikan. Supriyatno berharap peserta operator Dapodik menyampaikan kepada para operator sekolah di wilayahnya untuk bekerja secara teliti dan sungguh-sungguh sehingga tak lagi dijumpai data sampah.
Supriyatno menilai, operator sekolah yang telah berpengalaman memasukkan data ke aplikasi Dapodik 2012 kini sudah lebih paham mengenai peran dan fungsi data. Mereka sudah mengerti bahwa data yang sedianya dikirim ke Dapodik telah tervalidasi di sekolah.
Kini tugas yang harus diselesaikan operator sekolah adalah memasukkan data semester I ke aplikasi Dapodik lantaran data siswa baru telah ada. Sementara siswa kelas 2 cukup dipetakan.* (Billy Antoro)
Sumber
: http://dikdas.kemdikbud.go.id/
Tanggapan Kemdikbud tentang Nomor Induk Siswa Nasional
Jakarta --- Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memberikan klarifikasi surat pembaca dari
orangtua murid di Bekasi, Jawa Barat. Surat pembaca tersebut dimuat pada harian
Media Indonesia, Selasa, 23 Juli 2013, dengan judul ”Ada Apa dengan NISN dan
Kemendikbud”.
Seperti diberitakan, orangtua
murid tersebut, mempertanyakan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) anaknya yang
bersekolah di SDIT Al-Fath Cibitung. Sampai saat ini anaknya dan teman-teman
anaknya yang lulus kelas 6 belum memperoleh NISN. Menurutnya, pihak sekolah
sudah berusaha maksimal mengurusnya, tetapi sampai saat ini tidak berhasil.
Menanggapi surat pembaca
tersebut, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemdikbud, Ibnu Hamad, menyatakan
telah mengecek permohonan NISN dari SDIT Al Fath Cibitung Bekasi, namun
permohonan tersebut tidak ada dalam data pengajuan NISN di Pusat Data Statistik
Pendidikan (PDSP). Sedangkan di dalam surat pembaca tidak dijelaskan apakah
pihak sekolah SDIT Al Fath Cibitung Bekasi mengurus permohonan NISN melalui
surat elektronik (email) atau datang langsung ke PDSP dan kapan hal tersebut
dilakukan.
Pengajuan NISN dari sekolah
maupun Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang dikirimkan melalui email akan
mendapatkan balasan sebagai informasi apakah data yang diterima oleh PDSP sudah
sesuai dengan format isian yang disyaratkan. Sedangkan untuk persiapan
menghadapi Ujian Nasional (UN), pengajuan NISN untuk siswa kelas 6, 9 dan 12
mendapat prioritas dan diselesaikan maksimum dalam waktu satu minggu.
PDSP hanya mengaktifkan alamat
email satu pintu yaitu pdsp@kemdiknas.go.id.
Sejak bulan Januari 2013 pengajuan NISN yang melalui email tersebut menggunakan
formulir A1 yang dapat diunduh melalui web http://nisn.data.kemdikbud.go.id.
Informasi tentang pengajuan NISN yang sudah diproses dapat diperoleh Dinas
Pendidikan Kabupaten/Kota dan sekolah melalui laman http://refsp.data.kemdikbud.go.id
pada menu Data Peserta Didik, data pengajuan yang dapat dicari berdasarkan
wilayah dan satuan pendidikan. Untuk informasi individu siswa, dapat diperoleh
dengan melakukan pencarian melalui alamat http://nisn.data.kemdiknas.go.id
berdasarkan NISN atau berdasarkan nama dan tempat tinggal lahir siswa.
Kepala PIH Ibnu Hamad juga
menjelaskan, untuk pengajuan NISN, sekolah harus memiliki Nomor Pokok Sekolah
Nasional (NPSN). Berdasarkan Data Referensi Satuan Pendidikan yang ada di PDSP,
SDIT Al Fath Cibitung memiliki NPSN 69757386 yang merupakan sekolah baru dengan
nomor SK pendirian 504.15/076-III/SK-SD/BPPT/2011. Berdasarkan informasi
tersebut SDIT Al Fath Cibitung memiliki siswa kelas tertinggi adalah kelas 3
pada tahun 2013.
Berdasarkan Surat Edaran dari
PDSP tanggal 29 Mei 2013, Nomor 9889/P3/LL/2013 Perihal Pengelolaan NISN, untuk
mendukung sistem pendataan yang terintegrasi, mekanisme penomoran NISN tidak
lagi langsung melalui PDSP, tetapi melalui mekanisme Pendataan Individu Peserta
Didik dengan menggunakan aplikasi Info Pendataan Dikdas (Dapodik) melalui
operator sekolah. Untuk informasi terkait NISN, masyarakat dapat menghubungi
help desk NISN melalui dua jalur telepon, yaitu 021-57905777 dan 021-57904804.
(DM)
Sumber : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/1606
Rabu, 07 Agustus 2013
Sehari Bersama Presiden SBY
Jakarta—Dalam rangka Hari Anak
Nasional dan HUT Kemerdekaan RI Ke-68 Tahun 2013, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemdikbud) dan Istana untuk Rakyat mengadakan program “Sehari
Bersama Presiden SBY” bagi pelajar di seluruh Indonesia.
Kepala Subdirektorat Kelembagaan
dan Peserta Didik Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Elvira, mengatakan,
kegiatan ini diselenggarakan untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan seorang
Presiden dalam kesehariannya. "Para siswa akan mengenal lebih dekat
kehidupan Pak Presiden SBY mulai pagi sehabis bangun tidur, menjalankan tugas
kedinasan, kegiatan keluarga hingga kembali lagi untuk beristirahat,"
katanya usai rapat persiapan acara, di Jakarta, Jumat, (2/8/2013).
Elvira mengatakan, agar
mendapatkan gambaran utuh maka seluruh peserta, yang lolos seleksi, akan
diundang dan bermalam di Wisma Negara, Istana Negara tempat tinggal Presiden
SBY dan keluarga. Peserta, kata dia, juga berkesempatan mengikuti seluruh
kegiatan Presiden SBY sehari penuh pada tanggal 23 Agustus 2013.
"Usai mengikuti kegiatan
ini diharapkan anak-anak dapat mendapatkan pengalaman bagaimana rasanya menjadi
Presiden dan memotivasi semangat mereka yang bercita-cita menjadi
Presiden," katanya.
Panitia akan memilih
masing-masing dua siswa/i sekolah dasar (SD) sederajat, sekolah menengah
pertama (SMP) sederajat, dan sekolah menengah atas (SMA) sederajat.
Caranya mudah. Daftarkan diri kamu
melalui laman www.seharibersamapresidensby. org
Lalu, posting opini positif kamu di fanpage facebook Presiden di http://facebook.com/ sbyudhoyono
pada poster “Sehari Bersama Presiden SBY”. Tulis hal yang ingin kamu sampaikan
saat bertemu Presiden dan hal yang akan kamu lakukan seandainya menjadi
presiden.
Selanjutnya, like fanpage
facebook Presiden SBY di http://facebook.com/ sbyudhoyono dan follow twitter
Presiden SBY di http://twitter.com/SBYudhoyono .
Penentuan peserta terpilih akan
dilakukan oleh tim gabungan Istana Rakyat dan Kemdikbud berdasarkan ketentuan
tersebut di atas. Periode pendaftaran 29 Juli s.d. 16 Agustus 2013. (ASW)
Sumber : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/1611
Langganan:
Komentar (Atom)

Tahun 2014, Anggaran Pendidikan Naik 7,5 Persen
Riqqah Dhiya Ramadhanty
Kartu Perlindungan Sosial (KPS)
Sehari Bersama SBY
