Sabtu, 22 Juni 2013
Penyederhanaan, Tematik-Integratif Kurikulum 2013
Pengembangan
Kurikulum 2013 dilakukan dalam empat tahap. Pertama, penyusunan kurikulum di
lingkungan internal Kemdikbud dengan melibatkan sejumlah pakar dari berbagai
disiplin ilmu dan praktisi pendidikan. Kedua, pemaparan desain Kurikulum 2013
di depan Wakil Presiden selaku Ketua Komite Pendidikan yang telah dilaksanakan
pada 13 November 2012 serta di depan Komisi X DPR RI pada 22 November 2012.
Ketiga, pelaksanaan uji publik guna mendapatkan tanggapan dari berbagai elemen
masyarakat. Salah satu cara yang ditempuh selain melalui saluran daring
(on-line) pada laman http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id
, juga melalui media massa cetak. Tahap keempat, dilakukan penyempurnaan untuk
selanjutnya ditetapkan menjadi Kurikulum 2013. [ baca selanjutnya ]
Sumber : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/uji-publik-kurikulum-2013-1
Jumat, 21 Juni 2013
BSM Tidak Membedakan Status Sekolah
Penyaluran Bantuan Siswa Miskin (BSM) tidak membeda-bedakan
terhadap status kenegerian dari suatu sekolah. Seluruh siswa miskin yang
bersekolah baik di sekolah swasta maupun sekolah negeri, apabila memenuhi
standar penerima BSM, akan mendapatkan bantuan tersebut.
Demikian ditegaskan Sekretaris Direktorat Jenderal
Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Setditjen Dikmen
Kemdikbud) Mustagfirin Amin, saat menjelaskan perihal BSM di Talkshow RRI Pro 3
FM, di studio mini Pusat Informasi dan Humas (PIH), Jakarta, Rabu (19/6).
Mustagfirin mengatakan, kerjasama pihak sekolah untuk
mendata jumlah siswa miskin sangat diharapkan. Kepada penyiar radio Pro 3 FM
Rani Indira, pejabat eselon dua yang mengenakan batik bercorak coklat ini
mengungkapkan, hal tersebut dilakukan untuk menjaring siswa yang memang layak
menerima BSM.
Dia mencontohkan, "Misalkan pada SMAN 1 Kupang
terdapat 500 siswa, maka BSM itu akan langsung dikirimkan melalui kantor pos
berdasarkan data yang telah dikumpulkan ke Kemdikbud," katanya.
Tahun ini, alokasi anggaran BSM berdasarkan Rancangan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara 2013 adalah sebesar 6,04 T untuk 13,53 juta siswa. Satuan
biaya untuk siswa jenjang Sekolah Dasar adalah Rp 450.000 persiswa. Jumlah
tersebut mengalami kenaikan dari tahun lalu sebesar Rp 360.000 persiswa. Untuk
jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) masing-masing siswa akan menerima
sebesar Rp 750.000. Tahun lalu, BSM SMP sebesar Rp 560.000 persiswa. Dan
bantuan untuk Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan dan sederajat
adalah Rp 1 juta persiswa. (GG)
Sumber : http://kemdikbud.go.id
Kamis, 20 Juni 2013
TRANSPARANSI PENGGUNAAN DANA BOS
SDN 2 Bunutan, kab.
Karangasem, Propinsi Bali
Oleh : Wiwit
Kanti
Mengunjungi sekolah ini sama dengan mendaki
gunung, makin lama makin tinggi jalan yang harus di daki. Sepanjang jalan
pemandangan indah terpampang dikanan kirinya dan udara sejuk pegunungan sangat
terasa. Kadang kita melihat hamparan sawah dengan perbukitan di sisi kanan dan
perkampungan penduduk berjejer rapi disisi kiri, berselang seling dengan hutan
bambu.
Berjarak sekitar 30 km dari kota Amlapura (ibu
kota kab.Karangasem), sekolah ini terasa terpencil sekali. Berjumlah sebanyak
171 siswa, dimana 105 siswa diantaranya tergolong miskin. Pekerjaan orang
tua siswa SDN 2 Bunutan ini rata-rata adalah petani.
Sekolah ini berada disamping perbukitan yang
hijau dan sebanyak 40 % siswa berasal dari balik bukit-bukit tsb.
Sekitar 300 m jalan menjelang masuk sekolah ini, sarana jalannya telah lebih
baik dibanding 5 tahun silam. Jalan yang semakin mendaki ini kini sudah
dilapisi semen. Tak heran betapa sulitnya para siswa harus meniti jalan
menuju sekolah yang rata-rataberjarak 3-4 km dari rumah siswa yang terletak di
balik perbukitan itu. Sarana jalan yang harus ditempuhpun mungkin tidaklah
mudah. Namun demikian kendala geografis dan sarana jalan yang dihadapi para
siswa tidak menyurutkan para siswa untuk pergi sekolah. Tingkat kehadiran siswa
adalah 95%, dipastikan hanya hujan lebat yang mengakibatkan jalanan licin dan
harus melewati luapan sungailah yang menghalangi para siswa untuk pergi ke sekolah
di balik bukit tsb. Menurut Kepala sekolah, motivasi siswa untuk pergi ke
sekolah memang cukup besar. Sementara tingkat kehadiran guru sekitar 97%,
walaupun jarak tempuh ke sekolah cukup jauh. Sebanyak 70% guru melakukan
perjalanan ke sekolah tiap hari rata-rata 10-19 km. Itupun dilakukan para
pahlawan pendidikan tersebut tanpa keluhan. Hanya satu permintaan mereka kepada
para pembuat kebijakan dana BOS di Pusat, mungkinkah buku tulis dan alat tulis
siswa dapat dibiayai dari dana BOS seperti sebelum th 2009? Mengingat kendala
jarak tempuh dari tempat tinggal siswa untuk membeli buku/alat tulis ke toko
terdekat sekitar 10 km.
Sekolah ini pernah menyelenggarakan kegiatan
belajar mengajar di balai banjar/desa selama 23 bulan dr awal2004 sampai akhir
2005, karena keadaan bangunan sekolah sudah sangat rapuh dan rusak.
Keprihatinan ini merebut simpati mendalam bagi sebuah LSM asing berbasis di
Perancis yang bernama Yayasan Anak Indonesia, untuk memberi bantuan
berupa membangun dan merehab 3 ruang kelas sebesar Rp.80 juta. Bersamaan dengan
itu, sekolah ini tahun 2005 mendapat dana DAK sebesar Rp.50 juta. Kemudian
sejak thn 2007 sampai sekarang , yayasan tsb juga memberi bantuan
berbentuk beasiswa bagi siswa tidak mampu tapi berprestasi di sekolah ini.
Beasiswa diberikan langsung kepada siswa (sebanyak 3 orang), sebesar Rp. 180
ribu/siswa/ per 6 bulan.
Tidak heran sekolah ini mendapat bantuan tsb,
karena sang Kepala sekolah , Ida Wayan Suryana menerapkan aspek transparansi
penggunaan dana yang didapat oleh sekolah ini. Penggunaan dana BOS (Format
BOS-11A) dan pemberian dana bantuan lainpun ditempelkan di dinding luar,
sehingga setiap warga sekolah bisa mengetahui dan membacanya dengan mudah.
Selain itu, Kepala sekolah selalu mensosialisasikan walaupun sekolah gratis,
tetapi masih ada yang harus ditanggung oleh orang tua dan masyarakatpun dapat
mengerti bahwa yang gratis hanyalah biaya operasional sekolah.
Sekolah ini juga mempunyai ”good practice”
berupa Buku Serah terima dana BOS dari Kepala Sekolah (setelah pencairan)
kepada Bendahara BOS. Kepala sekolah mengaku sangat ”khawatir” memegang dana
tsb, terlebih karena penandatanganan pencairan dana BOS disana biasa dilakukan
tanpa Bendahara. Pembukuan tersebut sangat sederhana , namun sangat jelas dan
transparan bagi semua Guru dan Komite sekolah untuk melihatnya. Sementara di
sekolah lain di Kab. Karangasem dan Denpasar yang dikunjungi, belum saya
temukan hal seperti ini, bahkan di kebanyakan sekolah-sekolah yang pernah
dimonitor sebelumnya , agak sulit menemukan guru yang mengetahui secara pasti
jumlah nominal dana BOS di sekolahnya sendiri.
Sumber : http://bos.kemdikbud.go.id/home/artikel/9
Langganan:
Komentar (Atom)

Tahun 2014, Anggaran Pendidikan Naik 7,5 Persen
Riqqah Dhiya Ramadhanty
Kartu Perlindungan Sosial (KPS)
Sehari Bersama SBY